Kualitas udara dapat menurun karena adanya limbah gas.
Gas-gas dan partikulat-partikulat udara
yang melayang ke udara akibat dari pembakaran
incinerator dan boiler merupakan sumber dari pencemaran udara tersebut.
Limbah gas ini mengandung berbagai jenis
polutan seperti partikel debu, CO2 dan bahan
lain. Penanganan yang dilakukan
saat ini membuat cerobong asap
incinerator tinggi dari
permukaan tanah, sehingga udara yang
terkena polusi tidak akan terhirup oleh orang yang berada di sekitar
pabrik. Perusahaan kelapa sawit
mengolah sendiri limbah yang dihasilkan dari
proses pengolahan ( Pahan, 2008).
Monday, 23 December 2013
Limbah Gas
Limbah Padat Industri Kelapa Sawit
Menurut Andayani (2009), berbagai penelitian telah dilakukan menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Berikut akan dijelaskan manfaat limbah kelapa sawit yaitu :
1.
TKKS untuk pupuk
organik
Tandan kosong
kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki
kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan kosong
kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut
sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi
ekonomi. Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan sebagai
berikut.
a. Pupuk Kompos
a. Pupuk Kompos
Pupuk kompos
merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi
yang dilakukan oleh micro-organisme.
Pada prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan nisbah C / N yang terkandung
dalam tandan agar mendekati nisbah C / N tanah. Nisbah C / N yang mendekati
nibah C / N tanah akan mudah diserap oleh tanaman.
b. Pupuk Kalium
b. Pupuk Kalium
Tandan kosong
kelapa sawit sebagai limbah padat dapat dibakar dan akan menghasilkan abu
tandan. Abu tandan tersebut ternyata memiliki kandungan 30-40%, K2O, 7% P2O5,
9% CaO, dan 3% MgO. Selain itu juga mengandung unsur hara mikro yaitu 1.200 ppm
Fe, 1.00 ppm Mn, 400 ppm Zn, dan 100 ppm Cu. Sebagai gambaran umum bahwa pabrik
yang mengolah kelapa sawit dengan kapasitas 1200 ton TBS/ hari akan
menghasilkan abu tandan sebesar 10,8%/hari. Setara dengan 5,8 ton KCL; 2,2 ton
kiersit; dan 0,7 ton TSP. dengan penambahan polimer tertentu pada abu tandan
dapat dibuat pupuk butiran berkadar K2O 30-38% dengan pH 8 – 9.
c. Bahan Serat
Tandan kosong
kelapa sawit juga menghasilkan serat kuat yang dapat digunakan untuk berbagai
hal, diantaranya serat berkaret sebagai bahan pengisi jok mobil dan matras,
polipot (pot kecil, papan ukuran kecil dan bahan pengepak industri.
2.
Tempurung buah sawit untuk arang aktif
Tempurung
kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang
cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Arang aktif juga dapat
dimanfaatkan oleh berbagai industri. Antara lain industri minyak, karet, gula,
dan farmasi.
3.
Batang dan tandan sawit untuk pulp kertas
Kebutuhan pulp kertas di Indonesia sampai saat ini
masih dipenuhi dari impor. Padahal potensi untuk menghasilkan pulp di dalam negeri cukup besar. Salah
satu alternatif itu adalah dengan memanfaatkan batang dan tandan kosong kelapa
sawit untuk digunakan bahan pulp
kertas dan papan serat.
4.
Batang kelapa sawit
untuk perabot dan papan artikel
Batang kelapa
sawit yang sudah tua tidak produktif lagi, dapat dimanfaatkan menjadi produk
yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit tersebut dapat dibuat sebagai bahan
perabot rumah tangga seperti mebel, furniture,
atau sebagai papan partikel. Dari setiap batang kelapa sawit dapat diperoleh
kayu sebanyak 0.34 m3.
5.
Batang dan pelepah
sawit untuk pakan ternak
Batang dan
pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya terdapat tiga
cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak, yaitu pertama
pengolahan menjadi silase, kedua
dengan perlakuan NaOH dan yang ketiga adalah pengolahan dengan menggunakan uap.
Pengendalian Mutu
a. Pengendalian Selama
Pengolahan (Proses)
Banyak cara-cara pengendalian mutu yang berkaitan dengan
proses yang teratur. Contoh-contoh atau sample
dari hasil diambil dalam jarak waktu yang sama dan dilanjutkan dengan
pengecekan statistik untuk melihat apakah proses dimulai dengan baik atau
tidak. Apabila mulainya salah, maka keterangan kesalahan ini dapat diteruskan
kepada pelaksana semula untuk penyesuaian kembali. Pengawasan dari proses harus
berurutan dan teratur. Menurut Muhandri (2006), apabila input dan proses baik (terkendali) maka output akan baik juga (terkendali). Sebaliknya apabila output tidak baik, salah satu input atau proses tidak baik (tidak
terkendali). Beberapa cara dilakukan untuk mengendalikan proses yaitu melakukan
pengendalian otomatis, menyusun dan melatihkan prosedur-prosedur kerja yang
digunakan karyawan untuk melakukan tugasnya, memeriksa dan mengukur kinerja
proses, melakukan analisis dan memberi umpan balik kepada perbaikan input dan kondisi proses.
b. Pengendalian atas
Barang/Hasil yang Telah Diselesaikan
Walaupun telah diadakan pengendalian mutu dalam
tingkat-tingkat proses, tapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil
yang rusak atau kurang baik. Untuk menjaga agar barang yang rusak tidak lolos
dari pabrik sampai ke konsumen, maka diperlukan adanya pengendalian atas produk
akhir.
Proses Produksi
Menurut Handoko (2000), proses produksi umumnya dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Proses produksi
terus-menerus (Continous Process)
Proses produksi berlangsung
secara terus-menerus dan peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur
rapi dengan memperhatikan urutan-urutan atau routing dalam menghasilkan produk tersebut, juga arus barang, serta
arus bahan dalam proses yang telah distandarisasi.
b. Proses produksi terputus-putus (Batch Process)
Kegiatan proses produksi
dilakukan secara tidak standar atau putus-putus, tetapi didasarkan pada produk
yang dikerjakan, sehingga peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur
dapat bersifat fleksibel untuk dapat dipergunakan dalam menghasilkan berbagai
produk dengan berbagai ukuran.
c. Proses produksi
yang bersifat proyek
Kegiatan proses produksi
dilakukan pada tempat tertentu dan waktu yang berbeda-beda, sehingga peralatan
produksi yang digunakan ditempatkan pada lokasi dimana proyek tersebut
dilaksanakan pada saat yang direncanakan.
Proses produksi merupakan cara, metode dan teknik untuk
menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan
sumber – sumber (tenaga kerja, mesin, bahan – bahan, dan dana) yang ada (
Assauri, 2004).
Menurut Assauri ( 2004 ) menyebutkan dua macam proses
produksi sebagai berikut :
1.Proseas produksi yang
terus - menerus ( continuous process )
Ciri – ciri dari proses
ini antara lain :
a) Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah besar dengan
variasi yang sangat kecil dan sudah di
standarisasi.
b) Proses seperti ini biasanya menggunakan sistem atau cara
penyusunan alat berdasarkan pengerjaan.
c) Mesin – mesin yang digunakan bersifat khusus untuk
menghasilkan produk tersebut.
d) Apabila pada salah satu mesin terjadi kerusakan maka
seluruh proses akan berhenti.
2.Proses produksi yang terputus – putus
Proses produksi ini
memiliki ciri – ciri, antara lain:
a) Produk yang dihasilkan dalam jumlah yang relatif kecil,
namun variasinya sangat besar dan berdasarkan pesanan.
b) Proses ini biasanya menggunakan sistem atau cara
penyusunan peralatan berdasar atas fungsi atau peralatan yang sama di
kelompokkan pada tempat yang sama pula.
c) Mesin yang digunakan adalah mesin yang bersifat
umum, yang dapat digunakan untuk menghasilkan bermacam – macam produk dengan
variasi yang hampir sama.
d) Proses produksi tidak mudah terhenti bila terjadi
kerusakan pada salah satu mesin.
e) Persediaan bahan mentah biasanya dalam jumlah yang besar.
Subscribe to:
Posts (Atom)