Monday, 23 December 2013

Limbah Gas

 Selain limbah padat dan cair, industri pengolahan kelapa sawit juga menghasilkan limbah bahan gas. Limbah gas ini antara lain gas cerobong dan uap air buangan pabrik kelapa sawit (Yan Fauzi, 2002).
Kualitas udara dapat menurun karena adanya limbah gas. Gas-gas dan  partikulat-partikulat udara yang melayang ke udara akibat dari pembakaran  incinerator dan boiler merupakan sumber dari pencemaran udara tersebut. Limbah  gas ini mengandung berbagai jenis polutan seperti partikel debu, CO2 dan bahan  lain. Penanganan yang dilakukan  saat ini membuat cerobong asap  incinerator   tinggi dari permukaan tanah, sehingga  udara yang terkena  polusi tidak akan  terhirup oleh orang yang berada di sekitar pabrik.   Perusahaan kelapa sawit mengolah sendiri limbah yang dihasilkan dari  proses pengolahan ( Pahan, 2008).

Limbah Padat Industri Kelapa Sawit

 
Pemanfaatan Limbah Padat Tandan Kelapa Sawit

      Menurut Andayani (2009), berbagai penelitian telah dilakukan menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Berikut akan dijelaskan manfaat limbah kelapa sawit yaitu :
1.      TKKS untuk pupuk organik
     Tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan kosong kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi. Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Pupuk Kompos
     Pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh micro-organisme. Pada prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan nisbah C / N yang terkandung dalam tandan agar mendekati nisbah C / N tanah. Nisbah C / N yang mendekati nibah C / N tanah akan mudah diserap oleh tanaman.
b. Pupuk Kalium
     Tandan kosong kelapa sawit sebagai limbah padat dapat dibakar dan akan menghasilkan abu tandan. Abu tandan tersebut ternyata memiliki kandungan 30-40%, K2O, 7% P2O5, 9% CaO, dan 3% MgO. Selain itu juga mengandung unsur hara mikro yaitu 1.200 ppm Fe, 1.00 ppm Mn, 400 ppm Zn, dan 100 ppm Cu. Sebagai gambaran umum bahwa pabrik yang mengolah kelapa sawit dengan kapasitas 1200 ton TBS/ hari akan menghasilkan abu tandan sebesar 10,8%/hari. Setara dengan 5,8 ton KCL; 2,2 ton kiersit; dan 0,7 ton TSP. dengan penambahan polimer tertentu pada abu tandan dapat dibuat pupuk butiran berkadar K2O 30-38% dengan pH 8 – 9.
c. Bahan Serat
      Tandan kosong kelapa sawit juga menghasilkan serat kuat yang dapat digunakan untuk berbagai hal, diantaranya serat berkaret sebagai bahan pengisi jok mobil dan matras, polipot (pot kecil, papan ukuran kecil dan bahan pengepak industri.
2.       Tempurung buah sawit untuk arang aktif
Tempurung kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Arang aktif juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai industri. Antara lain industri minyak, karet, gula, dan farmasi.
3.       Batang dan tandan sawit untuk pulp kertas
Kebutuhan pulp kertas di Indonesia sampai saat ini masih dipenuhi dari impor. Padahal potensi untuk menghasilkan pulp di dalam negeri cukup besar. Salah satu alternatif itu adalah dengan memanfaatkan batang dan tandan kosong kelapa sawit untuk digunakan bahan pulp kertas dan papan serat.
4.      Batang kelapa sawit untuk perabot dan papan artikel
Batang kelapa sawit yang sudah tua tidak produktif lagi, dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit tersebut dapat dibuat sebagai bahan perabot rumah tangga seperti mebel, furniture, atau sebagai papan partikel. Dari setiap batang kelapa sawit dapat diperoleh kayu sebanyak 0.34 m3.
5.      Batang dan pelepah sawit untuk pakan ternak
Batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya terdapat tiga cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak, yaitu pertama pengolahan menjadi silase, kedua dengan perlakuan NaOH dan yang ketiga adalah pengolahan dengan menggunakan uap.

Pengendalian Mutu

Menurut Assauri (2004), secara garis besar, pengendalian mutu dapat dikelompokkan ke dalam dua tingkatan, yaitu :
a. Pengendalian Selama Pengolahan (Proses)
Banyak cara-cara pengendalian mutu yang berkaitan dengan proses yang teratur. Contoh-contoh atau sample dari hasil diambil dalam jarak waktu yang sama dan dilanjutkan dengan pengecekan statistik untuk melihat apakah proses dimulai dengan baik atau tidak. Apabila mulainya salah, maka keterangan kesalahan ini dapat diteruskan kepada pelaksana semula untuk penyesuaian kembali. Pengawasan dari proses harus berurutan dan teratur. Menurut Muhandri (2006), apabila input dan proses baik (terkendali) maka output akan baik juga (terkendali). Sebaliknya apabila output tidak baik, salah satu input atau proses tidak baik (tidak terkendali). Beberapa cara dilakukan untuk mengendalikan proses yaitu melakukan pengendalian otomatis, menyusun dan melatihkan prosedur-prosedur kerja yang digunakan karyawan untuk melakukan tugasnya, memeriksa dan mengukur kinerja proses, melakukan analisis dan memberi umpan balik kepada perbaikan input dan kondisi proses.
b. Pengendalian atas Barang/Hasil yang Telah Diselesaikan
Walaupun telah diadakan pengendalian mutu dalam tingkat-tingkat proses, tapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang rusak atau kurang baik. Untuk menjaga agar barang yang rusak tidak lolos dari pabrik sampai ke konsumen, maka diperlukan adanya pengendalian atas produk akhir.

Proses Produksi


Menurut Handoko (2000), proses produksi umumnya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Proses produksi terus-menerus (Continous Process)
Proses produksi berlangsung secara terus-menerus dan peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur rapi dengan memperhatikan urutan-urutan atau routing dalam menghasilkan produk tersebut, juga arus barang, serta arus bahan dalam proses yang telah distandarisasi.
b.  Proses produksi terputus-putus (Batch Process)
Kegiatan proses produksi dilakukan secara tidak standar atau putus-putus, tetapi didasarkan pada produk yang dikerjakan, sehingga peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur dapat bersifat fleksibel untuk dapat dipergunakan dalam menghasilkan berbagai produk dengan berbagai ukuran.
c. Proses produksi yang bersifat proyek
Kegiatan proses produksi dilakukan pada tempat tertentu dan waktu yang berbeda-beda, sehingga peralatan produksi yang digunakan ditempatkan pada lokasi dimana proyek tersebut dilaksanakan pada saat yang direncanakan.
Proses produksi merupakan cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber – sumber (tenaga kerja, mesin, bahan – bahan, dan dana) yang ada ( Assauri, 2004).
Menurut Assauri ( 2004 ) menyebutkan dua macam proses produksi sebagai berikut :
1.Proseas produksi yang terus - menerus  ( continuous process )
        Ciri – ciri dari proses ini antara lain :
a) Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah besar dengan variasi  yang sangat kecil dan sudah di standarisasi.
b) Proses seperti ini biasanya menggunakan sistem atau cara penyusunan alat berdasarkan pengerjaan.
c) Mesin – mesin yang digunakan bersifat khusus untuk menghasilkan produk tersebut.
d) Apabila pada salah satu mesin terjadi kerusakan maka seluruh proses akan berhenti.
2.Proses produksi yang terputus – putus
        Proses produksi ini memiliki ciri – ciri, antara lain:
a) Produk yang dihasilkan dalam jumlah yang relatif kecil, namun variasinya sangat besar dan berdasarkan pesanan.
b) Proses ini biasanya menggunakan sistem atau cara penyusunan peralatan berdasar atas fungsi atau peralatan yang sama di kelompokkan pada tempat yang sama pula.
c) Mesin yang digunakan adalah mesin yang bersifat umum, yang dapat digunakan untuk menghasilkan bermacam – macam produk dengan variasi yang hampir sama.
d) Proses produksi tidak mudah terhenti bila terjadi kerusakan pada salah satu mesin.
e) Persediaan bahan mentah biasanya dalam jumlah yang besar.